Kalau keamanan Paspampres jelas aman, tapi kalau "keamanan ghaib" banyak kisah horror di sana. Salah satunya kisah Gusdur ketika tinggal di Istana Negara. Cerita ini dulu saya pernah baca di buku Mata Batin Gusdur yang lebih jelas ceritanya.
Mungkin, ini juga alasan Jokowi lebih milih tinggal di Istana Bogor daripada Istana Merdeka?
Di Istana, Gusdur senang duduk di kursi seraya menikmati malam. Dan, ketika malam, seringkali ia jadi korban ke usulin makhluk penghuni istananya. Pernah suatu hari kursi yang didudukinya goyang sendiri. Namun, dengan samtainya beliau berkata, "Wis, aku ngerti kowe ono. Ojo ganggu aku, ya." Kalau bahasa gaulnya: Iye, gue tahu kamu itu eksis. So, jangan ganggu, ya.
Banyak kisah seram lainnya, misalnya penampakan hantu yang hitam, jangkung besar, berlari-larian di malam hari. Terus, ada juga yang bulu tengkuknya ditiup sesuatu yang tak kasat mata. Yang paling horror, ketika ada pengajian bulanan, tiba-tiba beringin di istana bergoyang sendiri, lalu mengeluarkan asap putih. Jelas, ibu-ibu yang mengaji turut ketakutan. Hanya Gus Dur dengan kesantaiannya bilang, "Enggak usah takut, mereka itu mau ikutan ngaji, kok."
Pada era Gus Dur, Istana Merdeka "tak sehoror" zaman Suharto dulu, mungkin karena sikap Gus Dur yang cuek, ramah, dan juga sering menerima tamu. Pada era Gusdur istana Merdeka begitu terbuka. Mulai dari pejabat, konglomerat, hingga kyai suka menemui Gus Dur di Istana. Ternyata, hantu juga takut sama manusia, kalau manusianya banyak, dan yang jaga manusia yang benar.
Catatan Kaki
Ini cara Gus Dur ubah keangkeran Istana Merdeka | merdeka.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar