Tampilkan postingan dengan label proposal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label proposal. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Juni 2024

MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW PADA PASING BAWAH PERMAINAN BOLA VOLI


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pendidikan jasmani pada dasarnya merupakan bagian integral dari sistem pendidikan secara keseluruhan, bertujuan untuk mengembangkan aspek kesehatan, kebugaran jasmani, keterampilan berpikir kritis, stabilitas emosional, keterampilan sosial, penalaran dan tindakan moral melalui aktivitas jasmani dan olahraga.Peranan pendidikan jasmani di sekolah menengah pertama cukup unik, karena turut mengembangkan dasar-dasar keterampilan yang diperlukan anak untuk mengawasi berbagai berbagai keterampilan dalam kehidupan dikemudian hari. Karena pada usia SMP tingkat pertumbuhan sedang lambat-lambatnya, maka pada usia-usia inilah kesempatan anak untuk mempelajari keterampilan gerak sedang tiba pada masa kritisnya.
Pembelajaran jasmani olahraga dan kesehatan yang sesuai dengan perkembangan anak didik dan pelaksanaannya dilakukan secara baik dan secara sistematis, maka akan diperoleh hasil yang signifikan terhadap pertumbuhan dan perkembangan siswa, baik jasmani dan rohani. Hal ini dimaksudkan untuk menyiapkan siswa secara fisiologi, baik meningkatkan kemampuan kebugaran jasmani dan rohani maupun membantu anak didik dalam mengembangkan kepribadiannya yang pada gilirannya akan tercipta generasi-generasi yang tangguh dimasa yang akan datang kelak. Pelaksanaan olahraga atletik di sekolah Menengah Pertama merupakan suatu usaha yang dilakukan untuk membina kebugaran jasmani yang disesuaikan dengan karakteristik siswa dalam pengembangan pembelajaran intelektual dan emosional
Kegiatan pembelajaran adalah suatu proses komunikasi yang harusdiciptakan melalui tukar menukar pesan atau informasi seorang guru kepada anak didik sehingga dapat diserap dan dihayati.Pembelajaran dapat berjalan baik apabila didukung dengan sarana dan prasaranayang memadai, metode belajar yang digunakan serta keaktifan siswa dalammengikuti pembelajaran. Namun sebaliknya, pembelajaran tidak akanberjalanlancar apabila tidak didukung dengan sarana dan prasarana, metode belajar yangmonoton, serta tidak aktifnya siswa dalam mengikuti pembelajaran.
Pembelajaran Penjasorkes di SMP Negeri 1 Widya Krama Telaga sudah berjalan relatif baik, tetapi ada kendala saat mengajar kelasVII, dalam mengikuti pembelajaran voliball khususnya pasing bawah.Materi pasing bawah kurang begitu diminati oleh siswa kelas VII.Pada saat kelas VII mendapat pembelajaran pasing bawah merekamerasa malas-malasan dan tidak antusias dalam mengikuti pembelajaran pasing bawah.Anak cenderung bosan karena pembelajaran pasing bawah cenderungpasif, gerakannya juga tidak bebas, pembelajarannya yang monoton danmembosankan serta kurang menarik.Apalagi guru dalam menyampaikanmateri kepada siswa masih menggunakan metode lama yaitu guru hanyamencontohkan kemudian anak disuruh menirukan.Oleh karena itu ketertarikandan perhatian siswa terlihat menurun, hal tersebut mengakibatkan rendahnyaperolehan nilai pasing bawah  yang masih dibawah KKM (Kriteria KetuntasanMinimal).
Ketertarikan siswapada pembelajaran pasing bawah sangat rendah, hal tersebut diperkuat denganhasil wawancara yang diakukan kepada siswa yang telah mendapatkanpembelajaran pasing bawah,dimana guru menanyakan mengapamereka mendapat nilai jelek saat pembelajaran pasing bawah? Adapun hasiljawaban dari wawancara kepada perwakilan siswa yang intinyahampir sama, mereka menjawab bahwa mereka tidak suka denganpembelajaran pasing bawah karena materi pasing bawah sangat membosankan dantidak menyenangkan.
Pada proses pembelajaran permainan bolavoli khususnya pasing bawah, guru hanyalangsung memperkenalkan lapangan dan bola voli kemudian memberikan contohTeknik-teknik dalam permainan bola voli yang sangat sulitdikuasai kalau hanya melihat dari contoh yang ada. Apalagi kadang-kadangguru dalam memberi contoh kurang begitu maksimal atau sempurna sehinggaanak meniru seadanya saja. Dalam kaitannya dengan masalah ini guru kurangterobosan dalam masalah mengemas suatu bentuk model pembelajaran yangkreatif dan menyenangkan bagi anak sehingga proses pembelajaran dapatdengan mudah diserap oleh anak.Dari sinilah peran guru Penjas dituntut agar bisa berfikir kreatif daninovatif dalam menyajikan pembelajaran yang aktif dan menyenangkan bagisiswa, sehingga pemilihan metode yang tepat dapatmembuat siswa akan semakin senang dan termotivasi dalam mengikutipembelajaran permainan Bolavoli khususnya pasing bawah..
              Menurut peneliti, melihat kondisi tersebut perlu adanya model pembelajaran guna untuk meningkatkan kemampuan pasing bawah.Melalui model pembelajarankooperatif tipe jigsawdiharapkan proses pembelajara pasing bawah dapat berjalan denganlancar dan menarik minat siswa. Penggunaan model  pembelajaraniniakan dapat membantu siswa dalam memahami kemampuan pasing bawahsehingga para siswa dapat melakukan pasing bawah dengan baik danbenar.
Berdasarkan uraian masalah yang telah dikemukakan diatas maka di rumuskan judul dalam penelitian ini adalah pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw terhadap kemampuan melakukan pasing bawah dalam permainan bola voli pada siswa  kelas VII Smp  Negeri Widya Krama Telaga

1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan  latar belakang masalah  yang  telah di kemukakan maka dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut: 
1.      Siswa tidak termotivasi untuk mengikuti prosespembelajaran pasing bawah
2.      Kurang tepatnya guru dalam menggunakan model pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah.
3.      Kurangnya perhatian siswa dalam mengikuti materi pembelajaran pasing bawah.
4.      Kurangnya fasulitas pendidikan olahraga yang disediakan oleh sekolah.


1.3 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang di uraikan diatas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: “Apakah Ada “pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw terhadap kemampuan melakukan pasing bawah dalam permainan bola voli pada siswa  kelas VII Smp  Negeri Widya Krama Telaga?”

1.4 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan yang hendak dicapai pada penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besarpengaruh model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw terhadap kemampuan melakukan pasing bawah dalam permainan bola voli pada siswa  kelas VII Smp  Negeri Widya Krama Telaga

1.5 Manfaat Penelitian.
Manfaat dari penelitian ini adalaah:
a.       Bagi sekolah sebagai sumbangan pemikiran dalam dunia pendidikan guna kemajuan pembelajaran pada umumnya dan pembelajaran pendidikan jasmani pada khususnya.
b.      Bagi guru adalah untuk meningkatkan kreatifitas mengajar dan model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik mari pembelajaran dan siswa.
c.       Bagi peneliti adalah untuk memberikan dan menamba wawasan serta pengetahuan keolahragaan tentang pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw terhadap kemampuan melakukan pasing bawah pada siswa kelas VII  smp negeri 1 Widya Karma telaga
d.      Bagi siswa adalah untuk meningkatkan motivasi belajar pasing bawah dan juga menciptakan rasa senang dalam mengikuti pelajaran pasing bawah.



BAB II
KAJIAN TEORI
2.1 Kajian Teori

2.1.1 Hakikat Pembelajaran
Model pembelajaran merupakan suatu cara yang digunakan oleh guru dalam mengajar atau menyampaikan materi ke peserta didik. menurut Rusman (2013:93) Pembelajaran pada hakikatnya merupakan proses interaksi antara guru dengan siswa, baik interaksi secara langsung seperti kegiatan tatap muka maupun secara tidak langsung, yaitu dengan menggunakan berbagai media pembelajaran. Menurut Endang komara, (2014:21) Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses perolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat berjalan dengan baik. menurut aliran Gestalt dalam Max Darsono dalam (2013: 9) yaitu suatu usaha guna memberikan materi pelajaran sedemikian rupa sehingga siswa lebih mudah mengorganisasikan atau mengaturnya menjadi suatu pola bermakna. Sanjaya mengatakan dalam Rilman (2014:124) “pembelajaran diartikan sebagai proses pengaturan lingkungan yang diarahkan untuk mengubah perilaku siswa kearah yang positif dan lebih baik sesuai dengan potensi dan perbedaan yang dimiliki siswa. Menurut Oemar Hamalik dalam Ade Rustanto (2013 :12) juga mengemukakan pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Dari beberapa pengertian pembelajaran di atas, dapat ditarik kesimpulan mengenai pembelajaran, bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.


2.1.2 Hakikat model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw
            metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah seperangkat komponen yang telah dikombinasikan secara optimal untuk kualitas pembelajaran. Dalam pelaksanaan metode pembelajaran tidak dapat dilepaskan dari teori pembelajaran.
Adapun teori pembelajaran kooperatif tipe jigsaw yang dikemukakan oleh Miftahul Huda (2013:204) metode kooperatif tipe jigsaw pertama kali dikembangkan oleh Aronson tahun 1975, metode ini memiliki dua versi tambahan jigsaw II dan jigsaw III.Materi ini dapat diterapkan untuk materi-materi yang berhubungan dengan keterampilan, membaca, mendengarkan, dan berbicara. Dalam jigsaw, guru harus memahami kemampuan siswa dan membantu siswa  mengaktifkan skema ini agar materi pelajaran bermakna. Menurut Aris Shoimin (2014:90) metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw menitikberatkan kepada kerja kelompok dalam bentuk kelompok kecil. Model jigsaw merupakan model belajar kooperatif dengan cara siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri atas 4-6  orang secara heterogen, siswa bekerja sama saling ketergantungan positif dan bertanggung jawab secara mandiri. Dalam model pembelajaran jigsaw siawa memiliki banyak kesempatan untuk mengemukakan pendapat dan mengolah informasi yang didapat dan dapat meningkatkan keterampilan berkomunikasi.
menurut Zainal Aaqib (2013:21) model pembelajaran jigsaw diperkenalkan oleh Areson, Blaney Stephen, Sikes dan Snap pada tahun 1978. Pada model pembelajaran jigsaw ini siswa dapat lebih berperan dalam pembelajaran. Pembelajaran kooperatif jigsaw ini adalah pembelajaran kelompok yang mempunyai tim ahli.
Menurut Imas Kurniasih dan Berlin Sani (2015:24) jigsaw adalah pembelajaran kooperatif yang didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajaranya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi kepada kelompoknya.Pada model pembelajaran jigsaw ini keaktifan siswa sangat dibutuhkan, dengan dibentuknya kelompok-kelompok kecil yang berangotakan 3-5 orang yang terdiri dari kelompok asal ddan kelompok ahli.
Menurut jurnal David Ganda Tua Naibaho dalam Slavin (2014:62) mengatakan bahwa dalam pembelajaran model jigsaw siswa diberikan tugas untuk membaca beberapa bab atau unit, dan dibrikan lembar ahli yang terdiri atas topik-topik yang berbeda yang harus menjadi fokus perhatian masing-masing anggota tim saatmereka membaca. Setelah semua anak membaca, sisiwa-siwa dari tim berbeda yang mempunyai fokus topik yang sama bertemu dalam kelompok ahli untuk mendiskusikan topik mereka. Para ahli tersebut kemudian kembali kepada tim mereka dan secara bergantian mengajari satu timnya mengenai topik mereka. Dapat kita lihat bahwa yang menjadi ciri khas model jigsaw adalah tim ahli yang berasal kelompok asal yang bertanggung jawab terhadap materi-materi mereka.
Menurut jurnal Suwarti dan Sarwono (2015:125) pembelajaran kooperatif tipe  jigsaw merupakan model pembelajaran kooperatif dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang heterogen dan bekerja sama saling ketergantungan yang positif dan bertanggung jawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang harus dipelajari dan menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok yang lain.
Menurut Nurhid (2016:150) pembelajaran model  jigsaw atau yang disebut juga model tim ahli adalah tehnik pembelajaran yang memusatkan perhatian pada kemampuan penguasaan materi pelajaran tertentu secara spesifik. Pada level awal siswa, tiap siswa (dan kelompok siswa) diharuskan menguasai tema materi pelajaran materi berbeda-beda satu sama lain. Pada level berikutnya , tiap siswa ( dan kelompok siawa) mempresentasikan tema materi pelajaran khusus yang telah dikuasainya didepan kelas, dia berperan sebagai guru sekaligus narasumber utama untuk materi tersebut bagi siswa lainya.
Dengan beberapa pendapat para ahli diatas  penulis menyimpulkan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah pembelajaran metode yang menggunakan pembelajaran kelompok kecil dan menggunakan salah satu tim ahli yang akan memberikan materi pada kelompoknya.

2.1.3  Langkah-Langkah Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw
1.      Siawa dikelompokan kedalam 4 anggota tim
2.      Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang berbeda.
3.      Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang ditugaskan.
4.      Anggota dari tim berbeda yang telah mempelajari bagian/sub bab yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan bagian/sub bab mereka.
5.      Setelah selesai diskusi sebagai tim ahli tiap anggota kembali ke kelompok asal dan bergantian mengajar teman satu tim mereka tentang sub bab yang mereka kuasai dan tiap anggota lainya mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
6.      Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi.
7.      Guru memberi evaluasi.

2.1.4   Kelemahan Dan Kelebihan Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw
a.      Kelemahan Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw
1.      Siswa yang aktif akan lebih mendominasi diskusi dan cenderung mengontrol jalanya diskusi.
2.      Siswa yang memiliki kemampuan membaca dan berfikir rendah akan mengalami kesulitan untuk menjelaskan materi apabila ditunjuk sebagai tenaga ahli.
3.      Siswa yang cerdas cenderung merasa bosan.
4.      Siswa yang tidak terbiasa bekompotisi akan kesulitan untuk mengikuti proses pembelajaran.
b.      Kelebihan Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw
1.      Mempermudah pekerjaan guru dalam mengajar, karna sudah ada kelompok ahli yang bertugas menjelaskan materi kepada rekan-rekanya.
2.      Pemerataan penguasaan materi dapat dicapai dalam waktu yang lebih singkat.
3.      Metode pembelajaran ini dapat melatih siswa untuk lebih aktif dalam berbicara dan berpendapat.




2.1.5   Hakikat Cabang Olahraga Bola Voli
permainan bola voli merupakan permainan yang telah diciptakan oleh Wilyam G Morgan, yang dimainkan oleh dua tim dan setiap tim ada enam 6 orang. Yang dimainkan didalam lapangan yang punya ukuran panjang 18 m dan lebar 6 m dan mempunyai net batas.  Dan menggunakan bola besar dan cara memainkanya harus melewati net selama 3 sentuhan pada tiap tim. Menurut Muhajir dkk (2017: 24) permainan bola voli adalah suatu cabang olahraga melambungkan bola melewati diatas jaring atau net, dengan maksud dapat menjatuhkan bola didalam lapangan permainan lawan untuk mencari kemenangan dalam bermain.Melambungkan dan memantulkan bola ke udara harus mempergunakan bagian tubuh mana saja (asalkan sentuhan/pantulanya harus sempurna).Menurut Sumaryoto dan Soni Nopembri (2014:1) permainan bola voli merupakan permainan beregu menggunakan bola besar yang dimainkan oleh dua regu yang saling berhadapan, masing-masing regu enam orang.Setiap regu diperbolehkan memainkan bola didaerah pertahananya sebanyak-banyaknya tiga kali pukulan. Menurut Amsal Bahtiar (2015:58) Permainan bola voli adalah permainan  berbentuk memukul di udara hilir mudik diatas net atau jaring, dengan maksud dapat menjatuhkan bola di dalam petak lawan untuk mencari kemenangan dalm permainan. Memvoli dan memantulkan bola ke udara harus mempergunakan bagian tubuh mana saja, asalkan dengan pantulan yang sempurna (tidak ganda). Keterampilan gerak dalam  permainan bola voli adalah keterampilan gerak servis (tangan bawah dan tangan atas), pasing atas dan pasing bawah, smas dan blok/bendungan (tunggal dan berkawan). Menurut Syarifudin dan Sudrajat Wiradihardja (2014:18) bola voli merupakan satu permainan yang dimainkan secara beregu. Sebuah tim terdiri dari enam orang pemain dilapangan selama pertandingan, suatu regu tidak boleh beranggotakan lebih dari 12 orang pemain. Menurut jurnalnya Putu Hendra Wiidiyasa ( 2014) permainan bola voli merupakan cabang olahraga yang dapat dimainkan oleh anak-anak sampai orang dewasa, baik laki2 maupun perempuan  seperti yang dikemukakan oleh Made Danu Budhiarta pada jurnalnya dalam Yunus (2014) bahwa permainan bola voli dapat dimainkan oleh semua lapisan masyarakat, dari anak-anak sampai orang dewasa, laki-laki maupun perempuan, baik masyarakat kota sampai pada msayarakat desa. Sebagai olahraga yang sering dipertandingkan bola voli dpat di mainkan dilapangan terbuka (out door) mapun dilapangan tertutup (in door).Karena makin berkembangya olahraga ini, bola voli dapat dimainkan di pantai yang kita kenal dengan voli pantai.Sebagai aturan dasar, bola boleh dipantulkan dengan seleuru anggota badan. Menurut jurnalnya Kt Semarayasa (2014) bola voli dimainkan oleh dua tim dimana tiap tim beranggotakan enam orang dalam satu lapangan berukuran 30 kaki persegi (9 meter persegi) bagi setiap tim dan kedua tim dipisahkan oleh sebuah net. Tujuan utama dari setiap tim adalah memukul bola ke arah bidang lapangan lawan sedemikian rupa agar lawan tidak dapat mengembaika bola. Tiap regu hanya bisa memainkan bola sebanyak 3 kali pukulan.Dan permainan bola voli punya tenik dasar yang perlu diketahui yaitu servis, pasing, smas dan bloking.
Dari beberapa uraian diatas yang telah dikemukakan oleh para ahli penulis menyimpulkan bahwa permainan bola voli adalah permainan yang di mainkan oleh dua regu dan tiap regu mempuanyai 6 orang per regu.Dan melewati bola di net dgn menggunakan seleuruh anggota badan, batas dari pada tiap regu menyentuh bola sebanyak 3 kali.

2.1.6  Hakikat Pasing bawah
            pasing bawah adalah mengoporkan bola kepada teman seregunya dengan gerak tertuntu, sebagai langkah awal untuk menyusun pola serangan kepada lawan. Menurut Sudrajat Wiradihardja (2014:19) pasing bawah adalah dorongan kedua lengan ke arah datangnya bola bersamaan kedua lutut dan pinggul naik serta tumit terangkat dari lantai. Usahakan arah datangnya bola tepat ditengah-tengah badan perkenaan bola yang baik tepat pada pergelangan tangan  dan kedua ibu jari.  Menurut syarifudin dkk ( 2014:40)  pasing bawah adalah berdiri dengan kedua kaki dibuka selebar bahu dan kedua lutut  direndahkan hingga berat badan tertumpu pada kedua ujung kaki dibagian depan. Menurut jurnalnya Kt Semarayasa (2015) pasing bawah adalah merupakan keterampilan yang paling dasar dan paling penting dalam permainan voli.Menurut Mikanda (2014:115) pasing bawah adalah memukul bola dari arah bawah, dengan tahap gerakan dimulai dari posisi tubuh yang sedikit diturunkan, lutut agak ditekuk, dan posisi kedua tangan dirapatkan.Pada saat memukul bola, tenaga yang dikeluarkan dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Menurut jurnalnya Yosi Yostagina (2013:4) pasing bawah merupakan tehnik dasar bola voli, tehnik ini digunakan menerima servis, menerima spike, dan memukul bola setinggi pinggang ke bawah dan memukul bola yang memantul dari net, pasing bawah merupakan awal dari sebuah penyerangan dalam bola voli. Menurut Muhajir (2017:26) adapun cara-cara melakukan pasing bawah dalah sebagai berikut.

1.      Berdiri dengan kedua kaki dibuka selebar bahu dan lutut ditekuk.
2.      Rapatkan dan lusruskan kedua lengan didepan badan hingga kedu ibu jari sejajar.
3.      Lakukan gerakan mengayunkan kedua lengan secara bersamaan dari bawah ke atas hingga setinggi bahu.
4.      Saat bola tersentuh kedua lengan kedua lutut diluruskan
5.      Perkenaan bola yang baik pada pergelangan.


2.2   Kerangka Berfikir
Standar kompetensi dan kompetensi dasar pendidikan jasmani dalam Kurikulum Satuan Pendidikan dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan dan penalaran dan menkomunikasikan ide atau gagasan.mata pelajaran pendidikan jasmani dan olahraga diberikan kepada siswa untuk membekali mereka dengan kemampuan berfikir logis, analistis, sistematis, kritis dan kreatif serta kerja sama. Sehingga guru dituntun untuk kreatif dalam melaksanakan proses pembelajaran agar menumbuhkan minat, motivasi dan mendapatkan hasil yang maksimal atas peningkatan pembelajaran siswa.
Pembelajaran pendidikan jasmani yang berbasis pada model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw memungkinkan siswa lebih tertarik untuk belajar dan menyukai aktifitas pembelajaran. Siswa akan lebih tertarik mengikuti pelajaran bila pembelajaran menyenangkan. Pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw pada dasarnya memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat melakukan aktifitas olahraga, sebab ketika siswa melakukan aktifitas olahraganya sebernanya mereka sedang melakukan akifitas pembelajaran. Siswa pada saat melakukan aktivitas olahraga juga bisa mengenal bagaimana teknik yang benar dalam melakukan pasing bawah
Melalui model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw memungkinkan adanya partisipasi aktif dari siswa dalam proses pembelajaran. Siswa yang aktif akan menunjukan proses belajar yang baik. Karena belajar yang baik adalah belajar yang aktif. Penemuan-penemuan cara yang tepat dalam menghadapi permasalahan saat pembelajaran kooperatif tipe jigsaw tentu lebih akan membekas dibandingkan hanya dikasih tahu oleh guru. Pembelajaran pendidikan jasmani dengan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw bila diterapkan dalam pembelajaran pasing bawah pada siswa kelas VII SMP Negeri Widya Krama Telaga lebih membuat siswa aktif dalam mengikuti pembelajaran pasing bawah.


2.3  Penelitian Yang Relevan
penelitian yang relevan yang terkait dengan penelitian ini diantaranya sebagai berikut:
1.      Muhamad Renaldo Shindu Purnama, 2014, jurnal, universitas negeri surabaya. Fakultas ilmu keolahragaan. Jurusan pendidikan jasmani kesehatan dan rekreasi. Pengaruh model pembelajaran langsung terhadap hasil belajar service bawah pada permainan bola voli. Hasil uji t antara pre-test dan posttest yang menunjukan hasil t hiting lebih besar dari t tabel yaitu 4,022 > 1,699 dengan taraf keteletian 95% (taraf nyata a 0,05), Hingga Ho ditolak. Jadi terdapat pengaruh model pembelajaran langsung terhadap hasil belajar servis pada permainan bola voli.
2.      Penelitian yang mendasari penelitian ini adalah penelitian oleh Darkamto (2012) yang berjudul peningkatan hasil hasil latihan tehnik pasing bawah bola voli dengan menggunakan metode latihan drill pada atlet junior klub angkasapura II medan. Hasil penelitian ini adalah: dari data tes awal latiahn diperoleh 3 orang (18.25%) yang telah tercapai tingkat keberhasilan latihan, sedangkan 13 orang (81.75%) belum tercapai tingkat keberhasilan latihan. Dengan nilai rata-rata adalah 66.8.
Dari data hasil tes siklus I diperoleh 14 orang (87.5%) yang telah tercapai tingkat keberhasilan latihan, sedangkan 2 orang (12.5%) belum tercapai tingkat keberhasilan, dengan nilai rata-rata adalah 89.4 dalam hal ini dapat dilihat bahwa terjadi peningkatan nilai rata-rata hasil talihan atlet dari tes awal 18.25%  ke siklus I 87.5% yaitu peningkatan keberhasilan secara klasikal sebesar 69%. Berdasarkan hasil analisis data dapat dikatakan bahwa dengan menggunakan metode drill meningkatkan hasil latihan pasing bawah dalam permainan bola voli pada atlet junior klub angkasapura II medan tahun 2012.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1    Tempat Dan Waktu Penelitian
3.1.1   Tempat
Adapun tempat pelaksanaan penelitian dimaksud yaitu di SMP Negeri Widya  Krama Telaga.


3.1.2 Waktu Penelitian
                     Penelitian dilaksanakan selama2 bulan, treatment atau/perlakuan yang dilakukan ialah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw akan dilaksanakan sebanyak 3 (tiga) kali dalam seminggu. Sehingga total tindakan 18  kali.  Penelitian   dimulai     terhitung  dari dikeluarkannya surat keputusn (SK) penelitian.


3.2     Desain Penelitian
Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain penelitian one group pre test – post test design.
            One group pre test-post test design, Dalam desain ini tidak ada kelompok control, dan subjek tidak di tempatkan secara acak. Kelebihan desain ini adalah di lakukannya pre test dan post test sehingga dapat di ketahui dengan pasti perbedaan hasil akibat perlakuan yang di berikan.






Desain Penelitian
Pre test
Treatment
Post test
X
Keterangan :
 : Pre Test                
 : Post Test              
X  : Treatment


3.3     Variabel Penelitian
            Variabel adalah suatu konsep yang memiliki variabilitas atau keragaman yang menjadi pokus penelitian.Variabel dapat digolongkan menjadi 2 bagian yaitu variabel bebes dan variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw (X) dan variabel terikat adalah kemampuan melakukan pasing (Y)


3.4  Populasi Dan Sampel

3.4.1   Populasi
              Menurut sugiyono (2012:80)mengatakan bahwa poppulasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Jadi populasi bukan hanya orang, tetapi juga obyek dan benda-benda alam lainnya. Berdasarkan pengertian tersebut, maka populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMP Negeri Widya krama Telaga, yang berjumlah 106 orang.

3.4.2   Sampel
              Sugiyono (2013:62) mengatakan bahwa sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Cara pengambilan sampel dalam penelitian ini yaitu dilakukan secara simple random sampling. Sugiyono (2013:64) mengatakan simple  (sederhana) karena pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu. Pengambilan sampel acak sederhana dapat dilakukan dengan cara undian. Memilih bilangan dari daftar bilangan secara acak. Jadi jumlah sampel yang diambil dalam penelitian ini sebanyak 20 orang.Kemudian penjabaran dari jumlah sampel yang di ambil dari keseluruhan jumlah populasi dapat di uraikan di bawah ini:





1+Ne2
 

                                          

Keterangan:
n          = Ukuran Sampel
N         = Ukuran Populasi
e          = Taraf kesalahan

(20%)2              =21 : 100 = 0,2
     (0,2)2          = 0,2 x 0,2 = 0,04
=106 x 0,04                                        
= 4,24
              
          
 = 20,2
3.5 Teknik Pengumpulan Data
Adapun langkah-langkah pengumpulan data yaitu:

3.5.1 Instrumen Penelitian 
Data kemampuan siswa dalam melakukan tolakan  sebelum dan sesudah diberi perlakuan, data situasi pembelajaran pada saat dilaksanakan perlakuan dan diambil melalui lembaran observasi.
Menurut Ali Maksum, (2009:56) instrument adalah alat ukur yang di gunakan untuk menguji mengumpulkan data dalam penelitian. Secara garis besar alat pengumpul data ada dua kategori yakni tes dan non-tes. Tes ini bertujuan untuk mengukur gerak dasar saat melakukan pasing bawah pada siswa kelas VII SMP Negeri Widya Krma Telaga.
Dalam penelitian ini peneliti hanya melihat kemampuan siswa melakukan pasing bawah, melalui pengamatan langsung.

 Format Penilaian
No
Aspek yang di amati/dinilai
Skor penilaian
Jumlah
Rata Rata
Ket
1
2
3
4
A
Fase persiapan
  1. Kedua lutut  ditekuk, badan dibengkokkan ke depan.
  2. Salah satu kaki tumpu ada di depan.
  3. Kedua tangan saling berpegangan dengan punggung tangan kanan diletakan di atas telapak tangan kiri, posisi  ibu jari sejajar sama panjang.
  4. Kedua lengan sejajar membentuk seperti papan pantul, siku terkunci, lengan sejajar dengan paha, pinggung lurus.







B
Fase pelaksanaan
  1. Ayunkan kedua tangan ke arah bola dengan sumbu gerak pada persendian bahu.
  2. Siku benar-benar dalam kondisi lurus, tidak ditekuk.
  3. Tutut mengikuti, tungkai kaki di luruskan.
  4. Perkenaan bola pada proksimal dari lengan, di atas dari pergelangan tangan dan pada waktu lengan membentuk sudut kurang lebih 45°







C
Akhir gerakan
  1. Jari tangan tetap digenggam
  2. Siku tetap terkunci
  3. Landasan mengikuti bola ke sasaran.
  4. Perhatikan bola bergerak ke sasaran.








JUMLAH







RATA-RATA







(Fahrul Razi, 2014)
Keterangan      :
Penilaian terhadap kualitas unjuk kerja peserta ujian, dengan rentang nilai antara 1 sampai dengan 4 (skor 4 = jika 4 indikator tampak; skor 3 = jika 3 indikator tampak; skor 2 = jika 2 indikator tampak; dan skor 1 = jika 1 indikator tampak) Mia Kusumawati (2015:130).

3.6 Analisis Dan Refleksi
            Data tentang kemampuan siswa dalam melakukan pasing bawah yang berupa data kuantitatif (Presentase), dengan pemaknaan nilai sebagai berikut:

Jumlah skor yang diperoleh
                               Nilai =                                                      X 100
Jumlah skor maksimal
Tabel 3.3
Tingkat Keberhasilan Siswa Dibandingakan Dengan Kriteria Sebagai Berikut.
NO
SKOR
PRESENTASE SISWA
KUALIFIKASI
TINGKAT KEBERHASILAN
1
85-100
85-100
Sangat Baik
Berhasil
2
70-84
70-84
Baik
Berhasil
3
50-69
50-69
Cukup
Belum Berhasil
4
<50
<50
Kurang
Belum Berhasil

3.7     Teknik Analisis  Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari dua bagian, yaitu analisis data deskriptif dan analisis data inferensial. tujuan dari statistik deskriptif adalah untuk mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya, tanpa membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum. Sedangkan analisis data inferensial digunakan untuk menguji hipotesis penelitian. statistic inferensial adalah teknik statistic yang digunakan untuk menganalisis data sampel dan hasilnya diberlakukan untuk populasi, Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan uji t. Syarat uji t adalah kedua kelompok harus berasal dari populasi yang berdistribusi normal dan mempunyai varians yang homogen. Oleh sebab itu sebelum melakukan uji t perlu analisis normalitas dan homoginitas sebagai berikut:

3.7.1  Uji Normalitas Data
Pengujian normalitas data untuk mengetahui apakah data yang diperoleh peneliti berdistribusi normal atau tidak. Dalam penelitian ini uji normalitas yang digunakan adalah uji lilefors dengan prosedur sebagai berikut:
1)      Pengamatan X1,X2,…..¸Xn dijadikan bilangan baku Z1 ,Z2,  ….,Zn dengan menggunakan rumus
Dimana :
= rata-rata sampel yang diperoleh dengan rumus
                                               
 S = standar deviasi yang diperoleh dengan rumus
                                                            
2)      Untuk bilangan baku menggunakan daftar distribusi normal baku, kemudian dihitung peluang
3)      Menghitung profosi yang lebih kecil atau sama dengan  Jika proporsi ini dinyatakan oleh S( ), maka
4)      Mengitung selisih F(Zi) - S(Zi) kemudian tentukan harga mutlaknya.    
5)      Mengambil harga yang paling besar di antara harga mutlak selisih tersebut.

3.7.2  Uji Homogenitas Varians
Pengujian homogenitas varians bertujuan untuk menguji kesamaan rata-rata dari beberapa varians. Untuk menguji homogenitas data variansnya menggunakan uji
F, dengan rumus:       
=
                     pasing H0 jika dan terima Ho jika . Dengan  didapat daftar distribusi F dengan peluang , sedangkan derajat kebebasan v1 dan v2 masing-masing sesuai dengan dk pembilang dan penyebut.

3.7.3 Hipotesis Statistik
Untuk menguji hipotesis penelitian, digunakan teknik statistik uji t dengan taraf nyata     α = 0,05. Rumus yang digunakan : 
Rumus :

Keterangan :    t           =          Observasi
Md      =          Rata-rata selisih antara pre-test dan post-test
ΣX2d   =          Jumlah kuadrat antara selisih pre-test dan post-test
                        n          =          Jumlah sampel penelitian

Pengujian hipotesis dalam penelitian ini dilakukan dengan uji kesamaan dua rata-rata. Statistik hipotesis yang akan diuji dirumuskan sebagai berikut:
H0 :       Tidak terdapat pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw terhadap kemampuan melakukan pasing bawah pada siswa kelas VII SMP Negeri Widya Krama Telaga
H1:       Terdapat pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw terhadap kemampuan melakukan pasing bawah pada siswa kelas VII SMP Negeri Widya Krama Telaga.





Apa fakta tersembunyi dibalik kejadian G 30 S PKI yang belum banyak orang Indonesia tahu?

  Apa fakta tersembunyi dibalik kejadian G 30 S PKI yang belum banyak orang Indonesia tahu? Drama penangkapan D.N. Aidit. Tentang cerita luc...