BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Pendidikan
jasmani pada dasarnya merupakan bagian integral dari sistem pendidikan secara
keseluruhan, bertujuan untuk mengembangkan aspek kesehatan, kebugaran jasmani,
keterampilan berpikir kritis, stabilitas emosional, keterampilan sosial,
penalaran dan tindakan moral melalui aktivitas jasmani dan olahraga.Peranan pendidikan
jasmani di sekolah menengah pertama cukup unik, karena turut mengembangkan
dasar-dasar keterampilan yang diperlukan anak untuk mengawasi berbagai berbagai
keterampilan dalam kehidupan dikemudian hari. Karena pada usia SMP tingkat
pertumbuhan sedang lambat-lambatnya, maka pada usia-usia inilah kesempatan anak
untuk mempelajari keterampilan gerak sedang tiba pada masa kritisnya.
Pembelajaran
jasmani olahraga dan kesehatan yang sesuai dengan perkembangan anak didik dan
pelaksanaannya dilakukan secara baik dan secara sistematis, maka akan diperoleh
hasil yang signifikan terhadap pertumbuhan dan perkembangan siswa, baik jasmani
dan rohani. Hal ini dimaksudkan untuk menyiapkan siswa secara fisiologi, baik
meningkatkan kemampuan kebugaran jasmani dan rohani maupun membantu anak didik
dalam mengembangkan kepribadiannya yang pada gilirannya akan tercipta
generasi-generasi yang tangguh dimasa yang akan datang kelak. Pelaksanaan
olahraga atletik di sekolah
Menengah Pertama merupakan suatu usaha
yang dilakukan untuk membina kebugaran jasmani yang disesuaikan dengan
karakteristik siswa dalam pengembangan pembelajaran intelektual dan emosional
Kegiatan pembelajaran adalah suatu proses komunikasi
yang harusdiciptakan melalui tukar menukar pesan atau informasi seorang guru
kepada anak didik sehingga dapat diserap dan dihayati.Pembelajaran dapat
berjalan baik apabila didukung dengan sarana dan prasaranayang memadai, metode
belajar yang digunakan serta keaktifan siswa dalammengikuti pembelajaran. Namun
sebaliknya, pembelajaran tidak akanberjalanlancar apabila tidak didukung dengan
sarana dan prasarana, metode belajar yangmonoton, serta tidak aktifnya siswa
dalam mengikuti pembelajaran.
Pembelajaran Penjasorkes di SMP Negeri 1 Widya Krama
Telaga sudah berjalan relatif baik, tetapi ada kendala saat mengajar kelasVII,
dalam mengikuti pembelajaran voliball khususnya pasing bawah.Materi pasing
bawah kurang begitu diminati oleh siswa kelas VII.Pada saat kelas VII mendapat
pembelajaran pasing bawah merekamerasa malas-malasan dan tidak antusias dalam
mengikuti pembelajaran pasing bawah.Anak cenderung bosan karena pembelajaran
pasing bawah cenderungpasif, gerakannya juga tidak bebas, pembelajarannya yang
monoton danmembosankan serta kurang menarik.Apalagi guru dalam
menyampaikanmateri kepada siswa masih menggunakan metode lama yaitu guru
hanyamencontohkan kemudian anak disuruh menirukan.Oleh karena itu
ketertarikandan perhatian siswa terlihat menurun, hal tersebut mengakibatkan
rendahnyaperolehan nilai pasing bawah yang masih dibawah KKM (Kriteria
KetuntasanMinimal).
Ketertarikan siswapada pembelajaran pasing bawah
sangat rendah, hal tersebut diperkuat denganhasil wawancara yang diakukan
kepada siswa yang telah mendapatkanpembelajaran pasing bawah,dimana guru
menanyakan mengapamereka mendapat nilai jelek saat pembelajaran pasing bawah?
Adapun hasiljawaban dari wawancara kepada perwakilan siswa yang intinyahampir
sama, mereka menjawab bahwa mereka tidak suka denganpembelajaran pasing bawah
karena materi pasing bawah sangat membosankan dantidak menyenangkan.
Pada proses pembelajaran permainan bolavoli
khususnya pasing bawah, guru hanyalangsung memperkenalkan lapangan dan bola
voli kemudian memberikan contohTeknik-teknik dalam permainan bola voli yang sangat
sulitdikuasai kalau hanya melihat dari contoh yang ada. Apalagi
kadang-kadangguru dalam memberi contoh kurang begitu maksimal atau sempurna
sehinggaanak meniru seadanya saja. Dalam kaitannya dengan masalah ini guru
kurangterobosan dalam masalah mengemas suatu bentuk model pembelajaran
yangkreatif dan menyenangkan bagi anak sehingga proses pembelajaran dapatdengan
mudah diserap oleh anak.Dari sinilah peran guru Penjas dituntut agar bisa
berfikir kreatif daninovatif dalam menyajikan pembelajaran yang aktif dan
menyenangkan bagisiswa, sehingga pemilihan metode yang tepat dapatmembuat siswa
akan semakin senang dan termotivasi dalam mengikutipembelajaran permainan
Bolavoli khususnya pasing bawah..
Menurut peneliti, melihat kondisi tersebut perlu adanya
model pembelajaran guna untuk meningkatkan kemampuan pasing bawah.Melalui model
pembelajarankooperatif tipe jigsawdiharapkan proses pembelajara pasing bawah
dapat berjalan denganlancar dan menarik minat siswa. Penggunaan model pembelajaraniniakan dapat membantu siswa
dalam memahami kemampuan pasing bawahsehingga para siswa dapat melakukan pasing
bawah dengan baik danbenar.
Berdasarkan
uraian masalah yang telah dikemukakan diatas maka di rumuskan judul dalam penelitian ini
adalah “pengaruh model pembelajaran
kooperatif tipe jigsaw terhadap kemampuan melakukan pasing bawah dalam
permainan bola voli pada siswa kelas VII
Smp Negeri Widya Krama Telaga”
1.2
Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang
telah di kemukakan maka dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut:
1. Siswa tidak termotivasi
untuk mengikuti prosespembelajaran
pasing bawah
2. Kurang tepatnya guru dalam menggunakan model
pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah.
3. Kurangnya perhatian siswa dalam mengikuti materi
pembelajaran pasing bawah.
4. Kurangnya fasulitas pendidikan olahraga yang
disediakan oleh sekolah.
1.3
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang
di uraikan diatas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: “Apakah
Ada “pengaruh model
pembelajaran kooperatif tipe jigsaw terhadap kemampuan melakukan pasing bawah
dalam permainan bola voli pada siswa
kelas VII Smp Negeri Widya Krama
Telaga?”
1.4
Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas maka
tujuan yang hendak dicapai pada penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa
besarpengaruh model
pembelajaran kooperatif tipe jigsaw terhadap kemampuan melakukan pasing bawah
dalam permainan bola voli pada siswa
kelas VII Smp Negeri Widya Krama
Telaga”
1.5 Manfaat Penelitian.
Manfaat dari penelitian
ini adalaah:
a. Bagi
sekolah sebagai sumbangan pemikiran dalam dunia pendidikan guna kemajuan
pembelajaran pada umumnya dan pembelajaran pendidikan jasmani pada khususnya.
b. Bagi guru adalah untuk meningkatkan kreatifitas
mengajar dan model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik mari
pembelajaran dan siswa.
c. Bagi peneliti adalah untuk memberikan dan menamba
wawasan serta pengetahuan keolahragaan tentang pengaruh model pembelajaran
kooperatif tipe jigsaw terhadap kemampuan melakukan pasing bawah pada siswa
kelas VII smp negeri 1 Widya Karma
telaga
d. Bagi siswa adalah untuk meningkatkan motivasi belajar
pasing bawah dan juga menciptakan rasa senang dalam mengikuti pelajaran pasing
bawah.
BAB
II
KAJIAN
TEORI
2.1
Kajian Teori
2.1.1
Hakikat Pembelajaran
Model pembelajaran
merupakan suatu cara yang digunakan oleh guru dalam mengajar atau menyampaikan
materi ke peserta didik. menurut Rusman (2013:93) Pembelajaran pada hakikatnya
merupakan proses interaksi antara guru dengan siswa, baik interaksi secara langsung
seperti kegiatan tatap muka maupun secara tidak langsung, yaitu dengan
menggunakan berbagai media pembelajaran. Menurut Endang komara, (2014:21)
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber
belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang
diberikan pendidik agar dapat terjadi proses perolehan ilmu dan pengetahuan,
penguasaaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada
peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu
peserta didik agar dapat berjalan dengan baik. menurut aliran Gestalt dalam Max
Darsono dalam (2013: 9) yaitu suatu usaha guna memberikan materi pelajaran
sedemikian rupa sehingga siswa lebih mudah mengorganisasikan atau mengaturnya menjadi
suatu pola bermakna. Sanjaya mengatakan dalam Rilman (2014:124)
“pembelajaran diartikan sebagai proses pengaturan lingkungan yang diarahkan
untuk mengubah perilaku siswa kearah yang positif dan lebih baik sesuai dengan
potensi dan perbedaan yang dimiliki siswa. Menurut Oemar Hamalik dalam Ade Rustanto (2013 :12) juga
mengemukakan pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi
unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang
saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Dari beberapa pengertian pembelajaran di atas, dapat ditarik kesimpulan
mengenai pembelajaran, bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik
dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran
merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan
ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap
dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah
proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.
2.1.2
Hakikat model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw
metode
pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah seperangkat komponen yang telah
dikombinasikan secara optimal untuk kualitas pembelajaran. Dalam pelaksanaan
metode pembelajaran tidak dapat dilepaskan dari teori pembelajaran.
Adapun teori
pembelajaran kooperatif tipe jigsaw yang dikemukakan oleh Miftahul Huda
(2013:204) metode kooperatif tipe jigsaw pertama kali dikembangkan oleh Aronson
tahun 1975, metode ini memiliki dua versi tambahan jigsaw II dan jigsaw
III.Materi ini dapat diterapkan untuk materi-materi yang berhubungan dengan
keterampilan, membaca, mendengarkan, dan berbicara. Dalam jigsaw, guru harus
memahami kemampuan siswa dan membantu siswa
mengaktifkan skema ini agar materi pelajaran bermakna. Menurut Aris
Shoimin (2014:90) metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw menitikberatkan
kepada kerja kelompok dalam bentuk kelompok kecil. Model jigsaw merupakan model
belajar kooperatif dengan cara siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri
atas 4-6 orang secara heterogen, siswa
bekerja sama saling ketergantungan positif dan bertanggung jawab secara
mandiri. Dalam model pembelajaran jigsaw siawa memiliki banyak kesempatan untuk
mengemukakan pendapat dan mengolah informasi yang didapat dan dapat
meningkatkan keterampilan berkomunikasi.
menurut Zainal Aaqib
(2013:21) model pembelajaran jigsaw diperkenalkan oleh Areson, Blaney Stephen,
Sikes dan Snap pada tahun 1978. Pada model pembelajaran jigsaw ini siswa dapat
lebih berperan dalam pembelajaran. Pembelajaran kooperatif jigsaw ini adalah
pembelajaran kelompok yang mempunyai tim ahli.
Menurut Imas Kurniasih
dan Berlin Sani (2015:24) jigsaw adalah pembelajaran kooperatif yang didesain
untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajaranya sendiri
dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang
diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi
kepada kelompoknya.Pada model pembelajaran jigsaw ini keaktifan siswa sangat
dibutuhkan, dengan dibentuknya kelompok-kelompok kecil yang berangotakan 3-5
orang yang terdiri dari kelompok asal ddan kelompok ahli.
Menurut jurnal David
Ganda Tua Naibaho dalam Slavin (2014:62) mengatakan bahwa dalam pembelajaran
model jigsaw siswa diberikan tugas untuk membaca beberapa bab atau unit, dan
dibrikan lembar ahli yang terdiri atas topik-topik yang berbeda yang harus
menjadi fokus perhatian masing-masing anggota tim saatmereka membaca. Setelah
semua anak membaca, sisiwa-siwa dari tim berbeda yang mempunyai fokus topik
yang sama bertemu dalam kelompok ahli untuk mendiskusikan topik mereka. Para
ahli tersebut kemudian kembali kepada tim mereka dan secara bergantian
mengajari satu timnya mengenai topik mereka. Dapat kita lihat bahwa yang
menjadi ciri khas model jigsaw adalah tim ahli yang berasal kelompok asal yang
bertanggung jawab terhadap materi-materi mereka.
Menurut jurnal Suwarti
dan Sarwono (2015:125) pembelajaran kooperatif tipe jigsaw merupakan model pembelajaran
kooperatif dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang heterogen dan bekerja
sama saling ketergantungan yang positif dan bertanggung jawab atas ketuntasan
bagian materi pelajaran yang harus dipelajari dan menyampaikan materi tersebut
kepada anggota kelompok yang lain.
Menurut Nurhid
(2016:150) pembelajaran model jigsaw
atau yang disebut juga model tim ahli adalah tehnik pembelajaran yang
memusatkan perhatian pada kemampuan penguasaan materi pelajaran tertentu secara
spesifik. Pada level awal siswa, tiap siswa (dan kelompok siswa) diharuskan
menguasai tema materi pelajaran materi berbeda-beda satu sama lain. Pada level
berikutnya , tiap siswa ( dan kelompok siawa) mempresentasikan tema materi
pelajaran khusus yang telah dikuasainya didepan kelas, dia berperan sebagai
guru sekaligus narasumber utama untuk materi tersebut bagi siswa lainya.
Dengan beberapa
pendapat para ahli diatas penulis
menyimpulkan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah pembelajaran metode
yang menggunakan pembelajaran kelompok kecil dan menggunakan salah satu tim
ahli yang akan memberikan materi pada kelompoknya.
2.1.3 Langkah-Langkah Model Pembelajaran Kooperatif
Tipe Jigsaw
1.
Siawa dikelompokan
kedalam 4 anggota tim
2.
Tiap orang dalam tim
diberi bagian materi yang berbeda.
3.
Tiap orang dalam tim
diberi bagian materi yang ditugaskan.
4.
Anggota dari tim
berbeda yang telah mempelajari bagian/sub bab yang sama bertemu dalam kelompok
baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan bagian/sub bab mereka.
5.
Setelah selesai diskusi
sebagai tim ahli tiap anggota kembali ke kelompok asal dan bergantian mengajar
teman satu tim mereka tentang sub bab yang mereka kuasai dan tiap anggota
lainya mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
6.
Tiap tim ahli
mempresentasikan hasil diskusi.
7.
Guru memberi evaluasi.
2.1.4 Kelemahan Dan Kelebihan Pembelajaran
Kooperatif Tipe Jigsaw
a.
Kelemahan
Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw
1. Siswa
yang aktif akan lebih mendominasi diskusi dan cenderung mengontrol jalanya
diskusi.
2. Siswa
yang memiliki kemampuan membaca dan berfikir rendah akan mengalami kesulitan
untuk menjelaskan materi apabila ditunjuk sebagai tenaga ahli.
3. Siswa
yang cerdas cenderung merasa bosan.
4. Siswa
yang tidak terbiasa bekompotisi akan kesulitan untuk mengikuti proses
pembelajaran.
b.
Kelebihan
Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw
1. Mempermudah
pekerjaan guru dalam mengajar, karna sudah ada kelompok ahli yang bertugas
menjelaskan materi kepada rekan-rekanya.
2. Pemerataan
penguasaan materi dapat dicapai dalam waktu yang lebih singkat.
3. Metode
pembelajaran ini dapat melatih siswa untuk lebih aktif dalam berbicara dan
berpendapat.
2.1.5 Hakikat Cabang Olahraga Bola Voli
permainan
bola voli merupakan permainan yang telah diciptakan oleh Wilyam G Morgan, yang
dimainkan oleh dua tim dan setiap tim ada enam 6 orang. Yang dimainkan didalam
lapangan yang punya ukuran panjang 18 m dan lebar 6 m dan mempunyai net
batas. Dan menggunakan bola besar dan
cara memainkanya harus melewati net selama 3 sentuhan pada tiap tim. Menurut
Muhajir dkk (2017: 24) permainan bola voli adalah suatu cabang olahraga
melambungkan bola melewati diatas jaring atau net, dengan maksud dapat
menjatuhkan bola didalam lapangan permainan lawan untuk mencari kemenangan
dalam bermain.Melambungkan dan memantulkan bola ke udara harus mempergunakan
bagian tubuh mana saja (asalkan sentuhan/pantulanya harus sempurna).Menurut
Sumaryoto dan Soni Nopembri (2014:1) permainan bola voli merupakan permainan
beregu menggunakan bola besar yang dimainkan oleh dua regu yang saling
berhadapan, masing-masing regu enam orang.Setiap regu diperbolehkan memainkan
bola didaerah pertahananya sebanyak-banyaknya tiga kali pukulan. Menurut Amsal
Bahtiar (2015:58) Permainan bola voli adalah permainan berbentuk memukul di udara hilir mudik diatas
net atau jaring, dengan maksud dapat menjatuhkan bola di dalam petak lawan
untuk mencari kemenangan dalm permainan. Memvoli dan memantulkan bola ke udara
harus mempergunakan bagian tubuh mana saja, asalkan dengan pantulan yang
sempurna (tidak ganda). Keterampilan gerak dalam permainan bola voli adalah keterampilan gerak
servis (tangan bawah dan tangan atas), pasing atas dan pasing bawah, smas dan
blok/bendungan (tunggal dan berkawan). Menurut Syarifudin dan Sudrajat
Wiradihardja (2014:18) bola voli merupakan satu permainan yang dimainkan secara
beregu. Sebuah tim terdiri dari enam orang pemain dilapangan selama
pertandingan, suatu regu tidak boleh beranggotakan lebih dari 12 orang pemain.
Menurut jurnalnya Putu Hendra Wiidiyasa ( 2014) permainan bola voli merupakan
cabang olahraga yang dapat dimainkan oleh anak-anak sampai orang dewasa, baik
laki2 maupun perempuan seperti yang
dikemukakan oleh Made Danu Budhiarta pada jurnalnya dalam Yunus (2014) bahwa
permainan bola voli dapat dimainkan oleh semua lapisan masyarakat, dari
anak-anak sampai orang dewasa, laki-laki maupun perempuan, baik masyarakat kota
sampai pada msayarakat desa. Sebagai olahraga yang sering dipertandingkan bola
voli dpat di mainkan dilapangan terbuka (out door) mapun dilapangan tertutup
(in door).Karena makin berkembangya olahraga ini, bola voli dapat dimainkan di
pantai yang kita kenal dengan voli pantai.Sebagai aturan dasar, bola boleh
dipantulkan dengan seleuru anggota badan. Menurut jurnalnya Kt Semarayasa
(2014) bola voli dimainkan oleh dua tim dimana tiap tim beranggotakan enam orang
dalam satu lapangan berukuran 30 kaki persegi (9 meter persegi) bagi setiap tim
dan kedua tim dipisahkan oleh sebuah net. Tujuan utama dari setiap tim adalah
memukul bola ke arah bidang lapangan lawan sedemikian rupa agar lawan tidak
dapat mengembaika bola. Tiap regu hanya bisa memainkan bola sebanyak 3 kali
pukulan.Dan permainan bola voli punya tenik dasar yang perlu diketahui yaitu
servis, pasing, smas dan bloking.
Dari beberapa uraian
diatas yang telah dikemukakan oleh para ahli penulis menyimpulkan bahwa
permainan bola voli adalah permainan yang di mainkan oleh dua regu dan tiap
regu mempuanyai 6 orang per regu.Dan melewati bola di net dgn menggunakan
seleuruh anggota badan, batas dari pada tiap regu menyentuh bola sebanyak 3
kali.
2.1.6 Hakikat Pasing bawah
pasing bawah
adalah mengoporkan bola kepada teman seregunya dengan gerak tertuntu, sebagai
langkah awal untuk menyusun pola serangan kepada lawan. Menurut Sudrajat
Wiradihardja (2014:19) pasing bawah adalah dorongan kedua lengan ke arah
datangnya bola bersamaan kedua lutut dan pinggul naik serta tumit terangkat
dari lantai. Usahakan arah datangnya bola tepat ditengah-tengah badan perkenaan
bola yang baik tepat pada pergelangan tangan
dan kedua ibu jari. Menurut
syarifudin dkk ( 2014:40) pasing bawah
adalah berdiri dengan kedua kaki dibuka selebar bahu dan kedua lutut direndahkan hingga berat badan tertumpu pada
kedua ujung kaki dibagian depan. Menurut jurnalnya Kt Semarayasa (2015) pasing
bawah adalah merupakan keterampilan yang paling dasar dan paling penting dalam
permainan voli.Menurut Mikanda (2014:115) pasing bawah adalah memukul bola dari
arah bawah, dengan tahap gerakan dimulai dari posisi tubuh yang sedikit
diturunkan, lutut agak ditekuk, dan posisi kedua tangan dirapatkan.Pada saat memukul
bola, tenaga yang dikeluarkan dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Menurut
jurnalnya Yosi Yostagina (2013:4) pasing bawah merupakan tehnik dasar bola
voli, tehnik ini digunakan menerima servis, menerima spike, dan memukul bola
setinggi pinggang ke bawah dan memukul bola yang memantul dari net, pasing
bawah merupakan awal dari sebuah penyerangan dalam bola voli. Menurut Muhajir
(2017:26) adapun cara-cara melakukan pasing bawah dalah sebagai berikut.
1.
Berdiri dengan kedua
kaki dibuka selebar bahu dan lutut ditekuk.
2.
Rapatkan dan lusruskan
kedua lengan didepan badan hingga kedu ibu jari sejajar.
3.
Lakukan gerakan
mengayunkan kedua lengan secara bersamaan dari bawah ke atas hingga setinggi
bahu.
4.
Saat bola tersentuh
kedua lengan kedua lutut diluruskan
5.
Perkenaan bola yang
baik pada pergelangan.
2.2
Kerangka Berfikir
Standar kompetensi dan
kompetensi dasar pendidikan jasmani dalam Kurikulum Satuan Pendidikan
dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan dan penalaran dan menkomunikasikan
ide atau gagasan.mata pelajaran pendidikan jasmani dan olahraga diberikan
kepada siswa untuk membekali mereka dengan kemampuan berfikir logis, analistis,
sistematis, kritis dan kreatif serta kerja sama. Sehingga guru dituntun untuk
kreatif dalam melaksanakan proses pembelajaran agar menumbuhkan minat, motivasi
dan mendapatkan hasil yang maksimal atas peningkatan pembelajaran siswa.
Pembelajaran pendidikan
jasmani yang berbasis pada model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw
memungkinkan siswa lebih tertarik untuk belajar dan menyukai aktifitas
pembelajaran. Siswa akan lebih tertarik mengikuti pelajaran bila pembelajaran
menyenangkan. Pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw
pada dasarnya memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat melakukan
aktifitas olahraga, sebab ketika siswa melakukan aktifitas olahraganya
sebernanya mereka sedang melakukan akifitas pembelajaran. Siswa pada saat
melakukan aktivitas olahraga juga bisa mengenal bagaimana teknik yang benar
dalam melakukan pasing bawah
Melalui model
pembelajaran kooperatif tipe jigsaw memungkinkan adanya partisipasi aktif dari
siswa dalam proses pembelajaran. Siswa yang aktif akan menunjukan proses
belajar yang baik. Karena belajar yang baik adalah belajar yang aktif.
Penemuan-penemuan cara yang tepat dalam menghadapi permasalahan saat
pembelajaran kooperatif tipe jigsaw tentu lebih akan membekas dibandingkan
hanya dikasih tahu oleh guru. Pembelajaran pendidikan jasmani dengan model
pembelajaran kooperatif tipe jigsaw bila diterapkan dalam pembelajaran pasing
bawah pada siswa kelas VII SMP Negeri Widya Krama Telaga lebih membuat siswa
aktif dalam mengikuti pembelajaran pasing bawah.
2.3
Penelitian
Yang Relevan
penelitian yang relevan yang
terkait dengan penelitian ini diantaranya sebagai berikut:
1. Muhamad
Renaldo Shindu Purnama, 2014, jurnal, universitas negeri surabaya. Fakultas
ilmu keolahragaan. Jurusan pendidikan jasmani kesehatan dan rekreasi. Pengaruh
model pembelajaran langsung terhadap hasil belajar service bawah pada permainan
bola voli. Hasil uji t antara pre-test dan posttest yang menunjukan hasil t
hiting lebih besar dari t tabel yaitu 4,022 > 1,699 dengan taraf keteletian
95% (taraf nyata a 0,05), Hingga Ho ditolak. Jadi terdapat pengaruh model
pembelajaran langsung terhadap hasil belajar servis pada permainan bola voli.
2. Penelitian
yang mendasari penelitian ini adalah penelitian oleh Darkamto (2012) yang
berjudul peningkatan hasil hasil latihan tehnik pasing bawah bola voli dengan
menggunakan metode latihan drill pada atlet junior klub angkasapura II medan.
Hasil penelitian ini adalah: dari data tes awal latiahn diperoleh 3 orang
(18.25%) yang telah tercapai tingkat keberhasilan latihan, sedangkan 13 orang
(81.75%) belum tercapai tingkat keberhasilan latihan. Dengan nilai rata-rata
adalah 66.8.
Dari data hasil tes siklus I diperoleh
14 orang (87.5%) yang telah tercapai tingkat keberhasilan latihan, sedangkan 2
orang (12.5%) belum tercapai tingkat keberhasilan, dengan nilai rata-rata
adalah 89.4 dalam hal ini dapat dilihat bahwa terjadi peningkatan nilai
rata-rata hasil talihan atlet dari tes awal 18.25% ke siklus I 87.5% yaitu peningkatan
keberhasilan secara klasikal sebesar 69%. Berdasarkan hasil analisis data dapat
dikatakan bahwa dengan menggunakan metode drill meningkatkan hasil latihan
pasing bawah dalam permainan bola voli pada atlet junior klub angkasapura II
medan tahun 2012.
BAB III
METODOLOGI
PENELITIAN
3.1
Tempat
Dan Waktu Penelitian
3.1.1
Tempat
Adapun tempat
pelaksanaan penelitian dimaksud yaitu di SMP Negeri Widya Krama Telaga.
3.1.2 Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan
selama2 bulan, treatment atau/perlakuan yang dilakukan ialah penerapan model pembelajaran
kooperatif tipe jigsaw akan dilaksanakan sebanyak 3 (tiga) kali dalam seminggu.
Sehingga total tindakan 18 kali. Penelitian dimulai
terhitung
dari dikeluarkannya surat keputusn (SK) penelitian.
3.2
Desain Penelitian
Desain yang digunakan dalam
penelitian ini adalah desain penelitian one
group pre test – post test design.
One group pre test-post test design,
Dalam
desain ini tidak ada kelompok control, dan subjek tidak di tempatkan secara
acak. Kelebihan desain ini adalah di lakukannya pre test dan post test sehingga
dapat di ketahui dengan pasti perbedaan hasil akibat perlakuan yang di berikan.
Desain
Penelitian
Pre test
|
Treatment
|
Post
test
|
|
X
|
|
Keterangan :
:
Pre Test
:
Post Test
X : Treatment
3.3
Variabel Penelitian
Variabel
adalah suatu konsep yang memiliki variabilitas atau keragaman yang menjadi
pokus penelitian.Variabel dapat digolongkan menjadi 2 bagian yaitu variabel
bebes dan variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah model
pembelajaran kooperatif tipe jigsaw (X)
dan variabel terikat adalah kemampuan melakukan pasing (Y)
3.4 Populasi Dan Sampel
3.4.1 Populasi
Menurut sugiyono (2012:80)mengatakan bahwa poppulasi adalah wilayah generalisasi
yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik
tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik
kesimpulannya. Jadi populasi bukan hanya orang, tetapi juga obyek dan
benda-benda alam lainnya. Berdasarkan pengertian tersebut,
maka populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMP Negeri
Widya krama Telaga, yang berjumlah 106 orang.
3.4.2
Sampel
Sugiyono
(2013:62) mengatakan bahwa sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik
yang dimiliki oleh populasi. Cara pengambilan sampel dalam
penelitian ini yaitu dilakukan secara simple random sampling. Sugiyono (2013:64) mengatakan simple (sederhana) karena
pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa
memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu. Pengambilan sampel acak
sederhana dapat dilakukan dengan cara undian. Memilih bilangan dari daftar
bilangan secara acak. Jadi jumlah sampel yang diambil dalam
penelitian ini sebanyak 20
orang.Kemudian penjabaran dari jumlah sampel
yang di ambil dari keseluruhan jumlah populasi dapat di uraikan di bawah ini:
Keterangan:
n = Ukuran Sampel
N = Ukuran Populasi
e = Taraf kesalahan
(20%)2 =21 : 100 = 0,2
(0,2)2 =
0,2 x 0,2 = 0,04
|
=106
x 0,04
= 4,24
=
20,2
3.5
Teknik Pengumpulan Data
Adapun langkah-langkah
pengumpulan data yaitu:
3.5.1
Instrumen Penelitian
Data kemampuan siswa
dalam melakukan tolakan sebelum dan
sesudah diberi perlakuan, data situasi pembelajaran pada saat dilaksanakan
perlakuan dan diambil melalui lembaran observasi.
Menurut Ali Maksum, (2009:56)
instrument adalah alat ukur yang di gunakan untuk menguji mengumpulkan data
dalam penelitian. Secara garis besar alat pengumpul data ada dua kategori yakni
tes dan non-tes. Tes ini
bertujuan untuk mengukur gerak dasar saat melakukan pasing bawah pada siswa kelas VII SMP Negeri
Widya Krma Telaga.
Dalam penelitian ini peneliti hanya melihat kemampuan siswa
melakukan pasing bawah, melalui pengamatan langsung.
Format Penilaian
No
|
Aspek yang di amati/dinilai
|
Skor penilaian
|
Jumlah
|
Rata –Rata
|
Ket
|
1
|
2
|
3
|
4
|
A
|
Fase
persiapan
- Kedua lutut ditekuk, badan dibengkokkan ke depan.
- Salah satu kaki tumpu ada di
depan.
- Kedua tangan saling
berpegangan dengan punggung tangan kanan diletakan di atas telapak
tangan kiri, posisi ibu jari
sejajar sama panjang.
- Kedua lengan sejajar
membentuk seperti papan pantul, siku terkunci, lengan sejajar dengan
paha, pinggung lurus.
|
|
|
|
|
|
|
|
B
|
Fase
pelaksanaan
- Ayunkan kedua tangan ke arah
bola dengan sumbu gerak pada persendian bahu.
- Siku benar-benar dalam
kondisi lurus, tidak ditekuk.
- Tutut mengikuti, tungkai kaki
di luruskan.
- Perkenaan bola pada proksimal
dari lengan, di atas dari pergelangan tangan dan pada waktu lengan
membentuk sudut kurang lebih 45°
|
|
|
|
|
|
|
|
C
|
Akhir
gerakan
- Jari tangan tetap digenggam
- Siku tetap terkunci
- Landasan mengikuti bola ke
sasaran.
- Perhatikan bola bergerak ke
sasaran.
|
|
|
|
|
|
|
|
JUMLAH
|
|
|
|
|
|
|
|
RATA-RATA
|
|
|
|
|
|
|
|
(Fahrul
Razi, 2014)
Keterangan :
Penilaian terhadap kualitas unjuk kerja peserta ujian,
dengan rentang nilai antara 1 sampai dengan 4 (skor 4 = jika 4 indikator tampak; skor 3 = jika 3
indikator tampak;
skor 2 = jika 2 indikator tampak; dan skor 1 = jika 1 indikator tampak) Mia Kusumawati
(2015:130).
3.6
Analisis Dan Refleksi
Data tentang kemampuan
siswa dalam melakukan pasing bawah yang berupa data kuantitatif (Presentase),
dengan pemaknaan nilai sebagai berikut:
Jumlah skor yang
diperoleh
Nilai =
X
100
Jumlah skor
maksimal
Tabel
3.3
Tingkat
Keberhasilan Siswa Dibandingakan Dengan Kriteria Sebagai Berikut.
NO
|
SKOR
|
PRESENTASE SISWA
|
KUALIFIKASI
|
TINGKAT KEBERHASILAN
|
1
|
85-100
|
85-100
|
Sangat Baik
|
Berhasil
|
2
|
70-84
|
70-84
|
Baik
|
Berhasil
|
3
|
50-69
|
50-69
|
Cukup
|
Belum
Berhasil
|
4
|
<50
|
<50
|
Kurang
|
Belum
Berhasil
|
3.7 Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini
terdiri dari dua bagian, yaitu analisis data deskriptif dan analisis data inferensial.
tujuan dari statistik deskriptif adalah untuk mendeskripsikan atau
menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya, tanpa membuat
kesimpulan yang berlaku untuk umum.
Sedangkan analisis data inferensial digunakan
untuk menguji hipotesis penelitian. statistic inferensial
adalah teknik statistic yang digunakan untuk menganalisis data sampel dan
hasilnya diberlakukan untuk populasi, Pengujian hipotesis dalam penelitian ini
menggunakan uji t. Syarat uji t
adalah kedua kelompok harus berasal dari populasi yang berdistribusi normal dan
mempunyai varians yang homogen. Oleh sebab itu sebelum melakukan uji t perlu
analisis normalitas dan homoginitas sebagai berikut:
3.7.1 Uji
Normalitas Data
Pengujian normalitas data untuk mengetahui apakah data
yang diperoleh peneliti berdistribusi normal atau tidak. Dalam penelitian ini uji
normalitas yang digunakan adalah uji lilefors dengan prosedur sebagai berikut:
1)
Pengamatan
X1,X2,…..¸Xn dijadikan bilangan baku Z1 ,Z2, ….,Zn dengan menggunakan rumus
Dimana :
= rata-rata
sampel yang diperoleh dengan rumus
S = standar deviasi yang diperoleh
dengan rumus
2) Untuk bilangan baku menggunakan daftar distribusi normal
baku, kemudian dihitung peluang
3) Menghitung profosi
yang lebih kecil atau sama dengan
Jika proporsi ini
dinyatakan oleh S(
), maka
4)
Mengitung selisih F(Zi)
- S(Zi) kemudian tentukan harga mutlaknya.
5)
Mengambil harga yang
paling besar di antara harga mutlak selisih tersebut.
3.7.2 Uji Homogenitas Varians
Pengujian homogenitas varians bertujuan untuk menguji kesamaan rata-rata
dari beberapa varians. Untuk menguji
homogenitas data variansnya menggunakan uji
F, dengan
rumus:
=
pasing H0 jika
dan terima Ho jika
. Dengan
didapat daftar distribusi F dengan peluang
, sedangkan derajat kebebasan v1 dan v2
masing-masing sesuai dengan dk pembilang dan penyebut.
3.7.3
Hipotesis Statistik
Untuk menguji hipotesis penelitian, digunakan teknik statistik uji t dengan
taraf nyata α = 0,05. Rumus yang
digunakan :
Rumus :
Keterangan : t = Observasi
Md = Rata-rata selisih antara pre-test dan post-test
ΣX2d = Jumlah
kuadrat antara selisih pre-test dan post-test
n = Jumlah
sampel penelitian
Pengujian hipotesis dalam
penelitian ini dilakukan dengan uji kesamaan dua rata-rata. Statistik hipotesis
yang akan diuji dirumuskan sebagai berikut:
H0 :
Tidak terdapat pengaruh model
pembelajaran kooperatif tipe jigsaw terhadap kemampuan melakukan pasing bawah pada siswa kelas VII SMP Negeri Widya Krama Telaga
H1:
Terdapat pengaruh
model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw terhadap kemampuan melakukan pasing
bawah pada siswa
kelas VII SMP Negeri Widya Krama Telaga.